Diberdayakan oleh Blogger.









'

Racing

OSIS

Prestasi Siswa

Cerpen Siswa

LABEL

Artikel

Pengaruh Hafalan Al-Qur’an, Kemampuan Matematika dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMPIT Abu Bakar Yogyakarta


Oleh Ust Ahmad Agus Sofwan
Kepala Sekolah SMAIT ABU BAKAR

Sekolah Islam Terpadu Lakukan Transformasi Pendidikan

Sementara itu, sekolah-sekolah Islam terpadu (SIT) di Yoyakarta telah melakukan transformasi pendidikan berbasis pembinaan karakter. 

Melalui musyawarah wilayah (musywil) yang diselenggarakan di gedung aula SMPIT Abu Bakar Yogykarta, Sabtu (19/1), jaringan sekolah tersebut merumuskan program pembelajaran serta pembinaan komunikasi guru.

Ketua Umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), Sumedi mengatakan, pihaknya akan merubah status SIT dari good school menjadi great school. Karena itu, perlu adanya perubahan teknis dari segi penyampaian materi dan kurikulum.

''Kami memang mengacu pada kurikulum nasional, namun kami juga mempunyai kurikulum standar JSIT,'' kata Sumedi pada Republika di sela-sela kegiatan Muswil tersebut, Sabtu (19/1).

Menurutnya, kurikulum baru yang tengah disosialisasikan oleh Kemenerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), sudah sejak awal diterapkan oleh SIT DIY. Pasalnya, selain materi pembelajaran, dia menilai, pembinaan karakter merupakan poin terpenting yang perlu diajarkan.

Sekertaris Yayasan SDIT Lukman Al-Hakim, Rahman Sudiyo menyatakan, berbeda dengan sekolah umum lainya, di sekolah yang dia bina tersebut, setiap pelajaran sudah mempunyai muatan pendidikan karakter. Dengan begitu, kepribadian siswa dapat dibangun bukan hanya dalam pada pelajaran moral semata.

''Hal semacam itu yang kami sebut, integrasi pembelajaran,'' kata Rahman.

Muswil tersebut dihadiri oleh 152 peserta yang merupakan para kepala serta wakil kepala sekolah dari 76 SIT di seluruh wilayah DIY. Dalam acara tersebut Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Pemerintah Provinsi DIY berkesempatan membuka kegiatan per tiga tahun itu.

Peran Boarding School Pada SMP IT Abu Bakar Yogyakarta Sebagai Salah Satu Upaya Penerapan Pendidikan Karakter

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendapatkan deskripsi tentang program boarding school dan perannya terhadap karakter siswa. Penelitian ini difokuskan pada: proses pembentukan pendidikan karakter siswa di SMP IT Abu Bakar Yogyakarta, dan peran boarding school terhadap pendidikan karakter bagi peserta didik program boarding school SMP IT Abu Bakar Yogyakarta. Data penelitian ini dikumpulkan menggunakan metode dokumentasi, wawancara, pengamatan (observasi), dan angket. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan purposive dan snowball sampling. 

Upaya untuk meningkatkan objektivitas dan kredibilitas data dilakukan dengan triangulasi data. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: proses pembentukan pendidikan karakter di SMP IT Abu Bakar Yogyakarta menggunakan proses keteladan, membimbing, membantu, keputusan moral, dan transformasi batin. Di samping itu, SMP IT Abu Bakar Yogyakarta juga menggunakan program 10 muwashofat yang mengacu pada grand desain pendidikan karakter untuk menerapkan pendidikan karakter. 

Peran boarding school terhadap pendidikan karakter siswa adalah membentuk karakter siswa dan menjadikan karakter yang baik sebagai kebiasaan siswa. Kata kunci: pendidikan karakter, boarding school
http://eprints.uny.ac.id/8026/

ATAS NAMA CINTA

Oleh : Ma’ruf
Bagi kalangan remaja rasa suka alias cinta menjadi konsumsi yang menjadikan dunia mereka sangat khas. Katanya bukan remaja jika tidak ada cinta (cinta dengan lawan jenis). Bukan remaja tulen jika tidak ada cinta, dengan romantika perjalanan nya tentunya.
Banyak remaja yang kalau berbicara tentang cinta, berperilaku cinta atau kalau ditanya tentang cinta, mereka sering mengatasnamakan cinta dalam rangka pembenaran pendapat mereka atau perilaku mereka. Apalagi kalau sudah dianggap sebuah kebutuhan. Secara pribadi saya belum pernah melakukan penelitian tentang perilaku remaja tentang cinta, namun hati saya merasakan suatu perkembangan yang sangat memprihatinkan. Bisa kita cermati di lapangan/masyarakat betapa banyak remaja kita yang terjerumus pada pergaulan bebas dan narkoba. Coba lihat berita-berita di televisi atau di media cetak yang vulgar. Ternyata kasus remaja sangat besar. Betapa perilaku zina sudah menjadi hal yang biasa tanpa beban. Betapa akhlak remaja begitu drastis turun memprihatinkan.
Saya pernah berdiskusi dengan remaja-remaja. Mereka mengatakan: “yah wajar namanya dunia remaja. Darah muda gitu”. Punya pacar. gonta-ganti pacar, surat-suratan (jaman dulu, sekarang kuno), boncengan, ketemuan, acara bareng dan hubungan-hubungan yang lebih dalam lagi menajadi sebuah jawaban perasaan-perasaan hati yang mereka cari. Saya beberapa kali menemukan di masyarakat remaja putri yang hamil akibat hubungan cinta mereka. Tentunya bukan sebuah paksaan namun sebuah suka rela walau awalnya dirayu-rayu tetapi pada akhirnya suka rela juga.   Begitu terjadi berulang-ulang di masyarakat Indonesia, seperti tidak mengambil pelajaran dari kasus-kasus sebelumnya. Saya yakin atas nama cinta ini terulang-ulang. Bahkan seorang bapak pun bisa mengatakan wajar anak gadisnya suka sama teman prianya alias pacarnya. Sedih kalau anaknya tidak punya teman dekat (baca : pacar). katanya tidak gaul.
Bukti nyata lagi bisa kita cek diapotik-apotik yang menyediakan kondom secara gratis atau dengan harga murah. Penulis menenukan dua orang pembeli yang ingin membeli tetapi caranya aneh. Bukan kondom tetapi justru alat tes kehamilan. Membeli dengan cara tidak menyebut nama barang namun dengan cara menunjuk barang itu, ketika memilihpun dengan cara menunjuk barang itu tanpa kata-kata. Petugasnyapun hanya menyebut harganya, tidak menyebut baranganya (sudah faham). Setelah saya perhatikan wajah sang pembeli itu, ya kira-kira yang satu seusia kelas 9 SMP dan yang satu seusia kelas 10 SMA.  Ada apa ini? Disebuah apotik yang saya temui disana tertera sebuah tulisan yang intinya sedia kondom gratis. Hebat bukan? Bebas siapapun bisa pesan.
Dari sedikit yang saya sampaikan ini pertanda perlunya perjuangan yang berat untuk mendidik keluarga-keluarga-keluarga muslim, remaja-remaja muslim dan masyarakat kita agar tidak terjerumus dalam pemikiran-pemikiran liberal sehingga mereka terjerumus dalam perzinaan. Agar masyarakat kita tidak permisif (cuek terhadap perilaku-perilaku bebas dalam pergaulan). Perlunya pembinaan masyarakat agar selalu faham dan taat pada agamanya (Islam) sehingga tahu mana yang benar dan salah dan mengamalkannya. Serta mampu menyaring pandangan-pandangan yang masuk dari dunia luar.
Bukanlah suatu tanggungjawab yang mudah sehingga butuh keterlibatan banyak fihak. Apalagi pembinaan untuk remaja yang sekarang sedang terkena “sihir-sihir” media sampai masuk ke tulang sumsum hati mereka, dan mempengaruhi kehidupan perilaku mereka. Agar mereka sadar dan tidak tertipu sebagaimana tertipunya para kaum musa as yang melihat ular tukang sihirnya fira’un. Padahal itu hanyalah tali yang berserakan.
Yang sedikit ini moga manfaat. Makruf_81@yahoo.com

YANG DILAKUKAN DALAM MASA KRISIS

By Agus Purnomo : Pembina Ekstra Jurnalistik SMPIT ABY           
 Perjalanan kehidupan manusia selalu dihiasi oleh rangkaian masalah. Baik itu masalah yang besar maupun masalah yang kecil. Sejak manusia lahir hingga dewasa akan menemui banyak problematika kehidupan. Bohong jika ada seseorang yang mengatakan bahwa ia tidak mempunyai masalah hidup. Karena baik itu orang kaya, miskin, pejabat, guru, pengusaha, pelajar dan lainnya selalu diliputi oleh masalah.
            Rosulullah SAW adalah manusia yang mempunnyai segudang masalah besar. Karena tugasnya penyampai risalah agung. Sejak kecil, beliau tidak pernah mendapat kasih sayang kedua orang tua karena mereka telah meninggal. Pada umur tujuh tahun beliau sudah diajak untuk berwirausaha bersama paman jauh ke negeri Syam. Tantangan kian besar saat wahyu turun dan Muhammad diperintahkan untuk menyebarkan risalah suci.
            Tantangan kian berat terutama awal wahyu diturunkan, rosulullah menggigil dan pada saat itu beliau hanya ditemani istri tercinta, Khadijah. Di sisi lain dakwah periode makkah ini baru sedikit pengikutnya, sementara tekanan kaum quraysi kian berat. Pernah suatu ketika manusia agung itu disiram dengan isi perut Unta ketika tengah berada di ka’bah.
Percikan Kilat Ditengah Badai Krisis
            Ada yang yang menarik dan sarat ibroh dalam perjalanan dakwah rosulullah saat perang khandak. Pada saat itu musim dingin tengah tiba, sementara itu rosulullah dan kaum muslimin dikepung oleh para munafikin dan yahudi yang licik. Suasana krisis belum berhenti sampai di situ, kaum muslimin pun dilanda kelaparan. Dipihak lawan, pasukan quraysi sedang menuju dan bersiap-siap menyerang.
Suasana sangat mencekam, dan tentu saja taruhannya adalah nyawa. Secara fisik kaum muslimin kelaparan belum lagi hawa dingin yang merasuk hingga ke tulang. Sementara itu secara psikologis mereka tengah diguncang tekanan dengan hebat karena pengepungan musuh dari dalam dan luar Madinah.
            Kejadian luar biasa itu terjadi saat penggalian parit khandak berlangsung. Kaum muslimin mendapati batu besar dalam penggalian. Kemudian mereka mengadukan hal itu kepada rosulullah. Maka beliaupun datang sambil membawa cangkul kemudian mengucapkan, “Bismillah”. Selanjutnya langsung memukul batu itu dengan sekali pukulan hingga mengeluarkan percikan bunga api. Kemudian mengucapkan, “Allahu Akbar, telah diberikan kepadaku kunci-kunci kerajaan Syam. Demi Allah, saat ini aku benar-benar melihat istana-istananya yang (penuh dengan gemerlapan).” Kemudian beliau memukul tanah itu untuk yang kedua kalinya. Maka terpecahlah sisi yang lainnya. Lalu beliaupun bersabda, “Allahu Akbar, telah diberikan kepadaku negeri Persia.
            Demi Allah, aku benar-benar melihat istana kerajaannya yang penuh dengan gemerlapan sekarang ini.” Lantas beliau memukul tanah itu untuk yang ketiga kalinya seraya mengucapkan, “Allahu Akbar”. Maka terpecahlah bagian yang tersisa dari batu itu. Kemudian beliau bersabda, “Allahu Akbar, aku benar-benar diberi kunci-kunci kerajaan Yaman. Demi Allah, aku benar-benar melihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku ini” (Al-Mubarakfuri, 2005).
            Ada optimisme yang dibangun di situ, di tengah rasa lapar, lelah, dingin, dan kekhawtiran yang mencekam. Dalam suasana krisis itu, rosulullah malah bersabda bahwa kerajaan Syam, Persia dan Yaman akan ditaklukan. Dan ini adalah perkataan rosulullah, ya ini adalah perkataan rosulullah yang sidiq. Kontans kaum muslimin pun bangkit seamangatnya dan kian kuat azzamnya. Peran khandak pun dimenangkan oleh kaum muslimin. Dan benarlah ucapan kekasih Allah tersebut, kerajaan-kerajaan besar terkuasi dikemudian hari.
Membangun Opmtimisme
            Sebagai seorang muslim kita memang tidak pernah lepas dari permasalahan. Namun kita juga harus meyakini bahwa Allah akan memberi jalan keluar pada tiap permasalahan. Memang jalan keluar itu tidak datang dalam sekejap mata. Atau datang hanya dengan berdoa saja. Pertolongan itu akan datang karena kita juga bekerja. Maka yang pertama dilakukan dalam masa krisis adalah menumbuhkan sikap optimis.
            Optimis adalah sebuah keyakinan bahwa kita dapat menyelesaikan sebuah permasalahan. Optimis kemudian bekerja memacu otak dan tenaga untuk bergerak maksimal menemukan jalan keluar. Setelah itu mereka (otak dan tenaga) akan bekerja secara harmonis dan terus berlangsung secara sistematis.
            Secara praksis lapangan, kekuatan yang muncul dari sikap optimis yang pertama kita akan membuat perencanaan. pada tahap ini kita akan menganilisis permasalahan secara mendalam. Kemudian mencari jalan keluar dengan cara yang objektif dan rasional. Itulah mengapa orang-orang sukses adalah orang-orang yang bekerja secara rasional bukan dengan cara irrasional seperti mendatangi dukun, memakai jimat atau berdoa dikuburan. Dalam perencanaan itu, kita mematoknya dengan target dan timing. Sehingga apa yang kita lakukan kelak adalah sebuah kerja yang tersusun.
            Kedua, sikap optimis memompa kerja dalam nafas panjang. Kerja seorang yang optimis akan sungguh-sungguh dan berlangsung lama. Ia akan memacu saraf dan otot untuk terus bergerak dalam masa sulit sekalipun. Kalaupun merasa letih, letih yang menyapa adalah karena sifat manusiawi bukan letih hati yang mematikan kesuksesan.
            Optimis kita adalah keyakinan bahwa Allah akan memberi pertolongan. Meyakini bahwa Allah sedang memberi ujian agar kita menjadi insan yang lebih baik. Oleh karenanya optimisme kita tidak dibangun atas landasan yang kosong, ia dibangun pada sebuah keimanan kepada Allah yang pasti menolong hambanya dan Dia tidak pernah ingkar janji.
“bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rosul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kami akan dikembalikan kepada (Allah) yang maha mengetahui yang gai dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (At-taubah 105)             



Sekolah Islam terpadu, Mencetak Generasi Penghafal Qur’an

Seperti diketahui khalayak umum, sekolah Islam Terpadu (IT) berbasis pada keterpaduan antara ilmu sains dan Islam. Dalam kurikulum dicantumkan Tahfizul Qur’an atau mata pelajaran menghafal Al Qur’an serta sisipan muatan spiritual dalam mata pelajaran umum.

Pendidikan tahfidzul Qur’an tradisional masih diselenggarakan oleh TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an).Namun seiring dengan makin tersibuknya siswa siswi SD, SMP, dan SMA membuat mereka tak lagi sempat dan mau pergi ke TPA. Sedangkan untuk menghafal Al Qur’an secara menyeluruh dan khusus harus dilakukan di podok pesantren yang belum mengakomodir kebutuhan mereka memperdalam ilmu sains secara bersamaan. Sedangkan keluarga penghafal Qur’an di Indoneisa bisa dihitung dengan jari.

Lalu di tengah krisis para hafidz yang sekaligus ilmuan mulailah muncul sekolah-sekolah Islam Terpadu yang mengakomodir pada siswa-siswi menghafal Al Qur’an sekaligus belajar mata pelajaran sekolah pada umumnya. Memang mata pelajaran Tahfidz tidak menjadi yang utama tapi disamakan porsinya dengan mata pelajaran lain seperti matematika, bahasa inggris, dan IPA namun kontinuitasnya membuat mata pelajaran Tahfidzul Qur’an yang diajarkan di sekolah menjadi penting dan berarti.Di beberapa sekolah mata pelajaran Tahfidz diajarkan setiap hari. Setidaknya dalam 1 tahun bersekolah di TKIT siswa menghafal 1 juz (juz 30), SDIT memasuki juz 29 dan 28 serta murojaah (mengulang kembali), dan saat SMP dan SMA diharapkan siswa mampu menguasai 5 juz Al Qur’an.

Seiring dengan berjalannya waktu dan pesatnya sekolah berbasis IT maka semakin banyaklah penghafal Qur’an (belum taraf seluruhnya, hanya sebagian juz saja). Walaupun begitu sekolah IT mampu mengembalikan budaya menghafal Al Qur’an di tengah masyarakat Indonesia yang lebih mengutamakan dan menghargai pendidikan akademis.

Semisal kita hitung ada 30 sekolah islam terpadu yang lulusannya mampu mengusai 1 juz (juz 30 saja) maka akan memberi kontribusi 900 penghafal Al Qur’an per tahun (1 sekolah diasumsi meluluskan setidaknya 30 siswa setiap tahun). Dalam lima tahun ke depan bukan tidak mungkin kebanyakan siswa siswi di lulusan IT seluruhnya sudah menguasai juz 30. Bukankah itu luar biasa? 


Sayangnya kebanyakan siswa sekolah IT tak melanjutkan jenjang yang lebih tinggi di sekolah yang sama, ada yang memilih sekolah negeri karena dipandang lebih memiliki prospek ke depan. Siswa yang meninggalkan bangku sekolah IT memiliki kesulitan dalam memelihara hafalannya karena budaya menghafal al qur’an tidak di bawa ke rumah rumah mereka. Maka tak heran banyak siswa lulusan IT yang menurun jumlah hafalannya padahal pernah menguasai 5 juz lancar di luar kepala.

Terlepas dari hal itu kita harus mengakui pentingnya sekolah IT dalam membumikan Al Qur’an di Indonesia. Perannya sebagai lembaga sekolah formal yang diakui pemerintah dalam hal mutu juga patut menjadi pelajaran bagi sekolah sekolah islam pada umumnya. Dalam menghadapi era global tentu kebutuhan akan ilmuan yang tak hanya pandai dalam hal akademis tapi juga dalam akhlaq dan spiritualitasnya menjadi kebutuhan yang pokok. Karena teknologi yang berkembang sedemikian pesatnya takkan mampu mengubah peradaban manusia menjadi lebih baik tanpa individu-individu yang memiliki keterpaduan pengetahuan sains dan Islam.

Ana Uswatun K, alumni pertama TKIT Mu'adz Bin Jabal, SDIT Luqman Al-hakim dan SMPIT Abu Bakar

Arti Orang Tua

Konon di Jepang dulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatanini terhadap ibunya.

Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata,"Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah..."

Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang ke rumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.

Orang tua bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tidak berdaya. karena pada saat engkau Sukses atau saat engkau dalam keadaan Susah, hanya orang tua yang mengerti kita dan batinnya akan menderita kalau kita susah.

Orang tua kita tidak pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita pernah kurang ajar kepada orang tua... Namun Bapak dan Ibu kita tetap mengasihi kita.

Mulai sekarang mari kita lebih mengasihi orang tua kita selagi mereka masih hidup.

Select Menu